Rabu, 07 November 2018

Biografi Singkat tentang Ir Budi Noviantoro tugas UKMP UNY 2018


Kelompok 8 UKMP UNY 2018

Biografi Tentang Ir Budi Noviantoro
   
     
       
       Jakarta: Hampir 2 (dua) bulan posisi Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Logistik (KALOG) kosong setelah ditinggal pergi oleh pendahulunya yang meninggal karena sakit, yaitu Rustam Harahap (alm). Tepat di hari Selasa 04/03, Budi Noviantoro resmi dilantik menjadi Direktur Utama PT KALOG. Pria kelahiranBojonegoro, 17/11/1960 ini menikah dengan wanita idamannya, Widarti pada tanggal 21/09/1989 dan dikaruniai 2 (dua) orang putera : Dika Ageng Wihantoro dan Wahyu Jatmiko. Pria jebolan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya – jurusan Teknik Sipil, bergabung dengan PT KAI sejak tahun 1989. Beliau menduduki banyak jabatan, mulai dari Pengawas Seksi Jalan Rel dan Jembatan Daop 3, EVP PT KAI Divre 3 dan EVP Freight & Marketing di PT KAI Kantor Pusat.

       Penemu Klip Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi. Tidak mudah membangun jalan kereta api sebab membangun jalur sistem kereta api kait-berkait dengan bermacam-macam hal, khususnya alat keselamatan perjalanan. Seperti pembangunan jalur ganda Cirebon- Cikampek Segmen 1, antara Cikampek dan Haurgeulis, Jawa Barat. Badan jalan selesai, rel terpasang lurus karena sudah di-listring (align), sebagian tetap saja tidak bisa digunakan karena persinyalan belum selesai. Padahal, proyek penggandaan jalur Cirebon-Cikampek ini dibangun dengan berbagai prestasi karena unik dan selesai sebelum jadwal, tetapi kemudian terganjal karena tidak "masuk" Stasiun Cikampek akibat Proyek Bandung Corridor yang waktu itu belum selesai.



       Bandung Corridor juga merupakan proyek jalur ganda parsial yang dibiayai Bank Dunia yang sepotong-sepotong membentang antara Stasiun Cikampek sampai Padalarang. Sementara Cirebon–Cikampek dibiayai bantuan Jepang dan keduanya merupakan proyek Departemen Perhubungan yang hari ini diresmikan presiden. Segmen 1 Cikampek-Haurgeulis sepanjang 54,3 kilometer ini merupakan bagian akhir dari jalur ganda Cirebon-Cikampek yang panjangnya sekitar 160 kilometer. Proyek ini semula direncanakan akan selesai pada November 2005 sesuai dengan hitungan konsultan. Namun setelah dihitung kembali, direncanakan dapat digunakan pada bulan Maret 2004. Kenyataannya, 14 November lalu jalur ini sudah dapat digunakan sehingga membantu memperlancar angkutan Lebaran. Dari jalur sepanjang 54,3 kilometer itu, 40 kilometer sudah komplet dengan persinyalan. Sisa sinyal sudah dipasang, tetapi belum dilakukan commissioning oleh kontraktor. Dengan alasan keselamatan, PT Kereta Api (PT KA) belum berani mengoperasikannya.

       Keberhasilan ini -ketika tak ada lagi kemacetan di jalur Cirebon/Cikampek karena tak lagi berbentuk jalur tunggal- tidak bisa dilepaskan dari peran Kepala Proyek (KA) Lintas Utara Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan. Keberhasilan membangun hanya satu segmen ini boleh kita anggap belum jadi ukuran, tetapi yang dikerjakan Budi Noviantoro (43) -biasa dipanggil Novi- memang selalu mengundang kekaguman. Ia berhasil mempercepat pembangunan jalur ganda Cikampek-Haurgeulis karena kejelian memanfaatkan dan mengerti kebutuhan orang lain.

       Kontraktor ingin proyek segera selesai sehingga cepat dibayar dan mencari pekerjaan lain. Berdasarkan alasan sederhana itu, tutur Novi, ia membagi proyek menjadi enam seksi yang dikerjakan serempak, tidak menyelesaikan sepotong-sepotong. Hasilnya, target penyelesaian November 2005 maju menjadi Maret 2004 dan akhirnya Februari mendatang semua sudah selesai karena tinggal persinyalan saja. Ketika konsultan dan pemberi bantuan mengatakan harus mengganti jembatan Kalibodri yang pilarnya bergeser dengan akibat harus menutup jalur selama belasan jam, Novi bilang tidak. "Wong jembatan masih bagus, kan bisa lebih hemat," kata ayah dua putra itu. Jembatan hanya dipindahkan ke pilar baru dengan cara menggeser di lempengan baja antikarat yang dilapisi teflon agar licin sehingga proses penggeseran pun hanya tiga jam. Orang Jepang yang tidak percaya pada ide Novi mengirimkan sejumlah ahli untuk memantau pergeseran ini. Selain itu, sekitar 150 mahasiswa jurusan teknik dari beberapa perguruan tinggi di Jateng dan Yogyakarta juga ikut hadir, yang kalau proses penggantian itu dikuliahkan, perlu 20 jam. Prinsip Novi, bahwa pekerjaan ini harus bisa diselesaikan dengan biaya murah, tingkat keandalan tinggi, dan cepat selesai, sudah memberikan hasil dengan diresmikannya jalur ini.

       PT KA pun sebenarnya harus berterima kasih kepada pemuda kelahiran Bojonegoro, Jawa Timur, 17 November 1960, itu karena beberapa prestasinya. Misalnya ketika ia harus meninggikan rel dan mengganti jembatan di jalur Tegal-Tanjung (Jateng) karena permukaan tanah di sekitar jalur itu terasa semakin tinggi sehingga jalur KA terancam banjir. Proyek itu malah membuat PT KA secara tanpa sengaja mendapat jalur ganda di tempat itu tanpa tambah biaya.

       Dengan cara konvensional, untuk mengatasi masalah itu adalah dilakukan peninggian rel sedikit-sedikit dan ini memakan waktu lama serta mengganggu perjalanan KA. Cara lain adalah dibuat rel di sampingnya dan lalu lintas KA dialihkan ke rel sementara itu ketika jalur lama dinaikkan. Setelah selesai, jalur sementara dibongkar lagi, batu-batu balasnya dikeruk untuk digunakan di tempat lain.

       Cara kerja Novi tidak demikian. Ia tetap membangun jalur sementara tetapi dalam posisi tinggi, naik 2,85 meter dibandingkan dengan posisi rel lama, sehingga malah pada perlintasan dengan jalan raya ia dapat membangun sebuah underpass. "Dengan underpass, tak akan ada tabrakan di perlintasan lagi," katanya. Rel lama kemudian juga ditinggikan sama dengan rel baru.

       Novi tidak cuma piawai di lapangan. Ia juga berhasil membuat penambat rel (fastener) yang namanya KA-Clip, yang kemudian dipatenkan atas nama PT KA yang diproduksi oleh PT Pindad. Ia membuat penambat itu karena melihat, untuk rel-rel di Indonesia dibutuhkan penambat khusus. Misalnya untuk rel ukuran R33, tak mungkin menggunakan penambat merek Pandrol atau DE-Clip karena longgar. Apalagi Pandrol dan DE-Clip harus diimpor atau dibuat di Tanah Air dengan lisensi dan membayar royalti kepada pemilik paten. Dengan KA- Clip yang sudah diuji bertahun- tahun di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak harus mengimpor, berarti menghemat devisa. Apalagi klip buatan Novi ibisa digunakan di rel ukuran berapa saja, baik R33, R42, maupun R54.

       Putra seorang guru STM yang menamatkan pendidikan S1 teknik sipil di Institut Teknologi Surabaya dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung ini sangat rendah hati. "Paten KA-Clip bukan atas nama saya karena dari awal saya serahkan kepada PT KA," kata suami Windarti ini tanpa beban. Ia merasa semua bukan pekerjaannya sendiri karena antara lain PT Pindad memfasilitasinya untuk melakukan penelitian dan pengembangan, kemudian memproduksi.

       Kalau saja Novi yang memegang paten, dia akan mendapat royalti dari PT KA yang kini sudah menggunakan ribuan KA-Clip di seluruh jaringannya. KA-Clip itu membuatnya meraih Penghargaan Teknik Industri Kreasi Indonesia 2003 dari Presiden Megawati Soekarnoputri belum lama ini. (Moch S Hendrowijono) --- Sumber: Harian Kompas, 4 Desember 2003.


Sumber :

Kamis, 30 Agustus 2018

Ringkasan e-Jurnal Tentang Efektivitas Aktivitas Pembelajaran Berkomunikasi Berbasis Permainan Tradisional Terhadap Dimensi Belajar Siswa

Ringkasan e-jurnal Bahasa Inggris UNY berjudul

"Efektivitas Aktivitas Pembelajaran Berkomunikasi Berbasis Permainan Tradisional Terhadap Dimensi Belajar Siswa"
Oleh : I Wayan Widiana, I Nyoman Jampel, dan I gusti Ayu Prayitha Prawini



           Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat sederhana tetapi berdampak sangat besar terutama untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengukur seberapa efektifkah permainan tradisional dalam meningkatkan proses kognitif siswa melalui kegiatan yang komunikatif. Penelitian ini berjenis penelitian semu. Dengan menggunakan 184 narasumber atau siswa kelas IV dari Gugus III Kecamatan Jembrana Bali. Sampel penelitian ini dibagi menjadi 27 siswa terbagi atas kelompok kontrol dan kelompok eksperimen menggunakan tes essay berjumlah 17 butir. Anderson dan Kratwohl di Negara Taksonomi Bloom (2010) yang direvisi bahwa ada dua dimensi pembelajaran pencapaian yaitu , pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi proses kognitif dibagi lagi menjadi enam kategori: (1) Mengingat : mengingat pengetahuan atau ilmu dengan jangka waktu yang lama (2) paham  membuat bahan ajar, termasuk apa yang diucapkan, dan dilakukan oleh guru (3) Menerapkan atau menggunakan prosedur atau tata cara dalam kondisi tertentu (4) Menganalisa: memecah materi ke dalam komponen dan menentukan hubungan di antara komponen dan relasinya antara komponen dan keseluruhannya struktur atau tujuan (5) Mengevaluasi: membuat keputusan berdasarkan kriteria atau standar individu; (6) Menciptakan : membuat sesuatu hal baru dari barang yang ada.

           Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah diantaranya adalah pengajaran menggunakan metode ilmiah dalam pembelajaran masih kurang, komunikasi anatara guru dan murid yang tidak optimal, media yang digunakan guru masih terbatas, dan krativitas guru untuk membuat media pembelajaran masih sangat minim. Kebanyakan guru juga belum memahami tentang pentingnya permainan yang dapat memotivasi siswanya dengan cara bermain sambil belajar. Karena sesuai dengan apa yang dikatakan “Noviyanti dan Setyaningtyas (2017) menyatakan bahwa guru yang mengelola kelas dengan baik dapat mendidik siswa menjadi lebih efektif. Sebagai seorang guru, seseorang harus mampu untuk mengelola ruang kelas karena bertujuan agar pelajaran dapat sepenuhnya tercapai dan proses kognitif siswa menjadi lebih baik. Karena hal inilah diharapkan permainan tradisonal dapat menjadi pemecahan masalah untuk anak-anak sekolah saat ini khususnya di Indonesia. Sama seperti kata “Mulyani (10: 2016), permainan tradisional adalah permainan yang diwariskan dari nenek moyang kita dan bahwa kita wajib pertahankan karena mengandung kearifan lokal”. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan “Muliawan (2009: 35) perbedaan besar antara permainan kontemporer dan permainan tradisional terletak pada kenyataan bahwa di masa lalu, permainan tradisional tidak hanya melatih pikiran, perasaan dan emosi, tetapi mereka juga melatih menjaga keseimbangan antara gerakan tubuh dan kelincahan”.

           Hal inilah yang menjadikan permainan tradisonal memiliki nilai plus yaitu ”melatih motorik (gerak fisik), mempengaruhi (perasaan), kognitif (kecerdasan), spiritual (karakter), dan keseimbangan (kesempurnaan hidup) (Muliawan, 2009: 35)”. Berdasarkan kriteria skala lima dan menurut analisis data  bahwasanya skor rata-rata dalam proses kognitif di kelompok eksperimen adalah 60.67 (sangat tinggi). Terbukti hipotesis penelitian yang diujikan tersebut terdapat perbedaan yang sangat signifikan dan positif kepada keenam anak SD di Indonesia. Pada kelompok III , sekolah di Kabupaten jembrana Bali tahun 2016/2017diadakan uji hipotesis yang memiliki hasil akhir yaitu kenaikan presentase hasil positif siswa hingga 5%. Penelitian ini dapat menujukan bahwa suatu inovasi belajar ataupun mengajar dapat meningkatkan aktivitas siswa, motivasi, dan proses kognitif. Sebuah aktivitas pembelajaran berbasis permainan tradisional sangat sesuai dengan karakter siswa sekolah dasar secara umum yaitu sangat suka bermain dan sangat suka berbicara. Hal ini sesuai dengan  penemuan atau penelitian yang dilakukan oleh Noviyanti dan Setyaningtyas (9: 2017) Bahwa lingkungan yang kurang kondusif dapat menghambat perkembangan siswa terutama dalam hal kedisiplinan (masalah behavior).

           Mengganggu teman yang lain dalam pembelajaran tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga psikologis atau psikis. Dalam hal inilah permainan tradisional efektif untuk diterapkan di pengajaran karena dapat membuat kondisi kelas lebih hidup dan terkesan ramah. Karena Lingkungan yang kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar dan mendidik karakter siswa. Permainan tradisional adalah kegiatan melestarikan budaya yang berfungsi untuk media mendidik rasa solidaritas, demokrasi, empati, simpati, meghargai orang lain, menghormati orang lain, toleransi, konsensus, kekompakan, dan saling tolong menolong. Juga dapat mengasah jiwa kepahlawanan seorang anak seperti pantang menyerah, mandiri, bertanggung jawab, kontrol diri, mementingkan kepentingan bersama diatas kepentingan pribadi, dan membela hak orang lain. Terdapat juga aktivitas fisik seperti membuat badan sehat karena menggunakan otot, meningkatkan fungsi organ dalam tubuh, dan memperlancar metabolisme. Maka anak-anak akan dapat mengembangkan kepribadiannya kearah yang positif seperti jujur, sportif, bertanggung jawab, kontrol diri, toleransi, dan kasih sayang terhadap sesama. Permainan tradisonal juga dapat mengasah kedisiplinan seorang anak yang meliputi taat aturan, norma, dan nilai-nilai. Hal inilah yang mencerminkan keberagaman berbagai masyarakat dan budaya terutama permainan tradisional di Indonesia di dalam Bhinneka Tunggal Ika.

           Berhubungan dengan ini, maka hal yang sama juga dinyatakan oleh Haerani bahwa permainan tradisional yang juga merupakan budaya nasional Indonesia terbukti mampu mengembangkan karakter positif pada anak-anak. Aktivitas belajar dengan permainan tradisional juga mampu untuk meningkatkan aktivitas berkomunikasi siswa disamping untuk melestarikan budaya Indonesia dari kemajuan zaman dimana anak-anak semakin melupakan permainan tradisonalnya dan memilih bermain gawai atau gadged. Siswa yang tadinya pasif dan pemalu dalam menyampaikan pendapatnya setelah diberikan permainan tradisional maka dia menjadi aktif dalam berkomunikasi dan antusias di kelas. Pembelajaran dengan permainan tradisional  juga memiliki beberapa manfaat lain, contohnya dapat mengasah ingatan anak-anak, mengatur strategi, memiliki tujuan atau target yang harus dicapai. Contoh permainan tradisional yang dilakukan adalah permainan kena jadi yang terbukti menjadikan aktivitas berkomunikasi menjadi efektif, optimal, suasana kelas lebih menyenangkan,dan mengasah fokus para peserta didik. Dalam permainan ular naga juga dapat membuat siswanya lebih aktif untuk mengembangkan pengetahuan mereka, keberanian, dan melatih cara berpendapat kepada orang lain. Ini sesuai dengan opini Koswara (Koswara, 2014) mengajar akan lebih bermakna dan tahan lama jika para siswa diberi kesempatan untuk aktif mengembangkan pengetahuan mereka sendiri, untuk mengembangkan pengetahuan sendiri agar dapat diubah menjadi perilaku yang benar-benar baru dan positif hasil dari pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungan. Namun dalam setiap permainan tradisional harus kita dasari pancasila karena hal ini juga dapat mengasah nasionalisme dan patriotisme anak sejak kecil.

           Peneliti menggunakan dua responden anak dari Bali untuk memainkan permainan ngangengkang batu dan nyen durien agar mereka juga mengenal berbagai macam permainan tradisional di daerahnya. terbukti permainan ini menjadi kegiatan pembelajaran berkomunikasi yang menyenangkan, aktif dan antusias. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari Sri Wati (2013) berjudul “Model Pengaruh Pembelajaran TPS Berbantu Media Permainan Tradisional Bali terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas IV SD Gugus IV Sawan. ” Hasil penelitian ini adalah terjadinya perbedaan pemahaman dalam memahami sains antara anak menggunakan metode pengajaran permainan tradisional dengan anak yang menggunakan metode konvensional. Penelitian ini juga mendapat dukungan dari Untari (2013) berjudul “Keefektifan pendekatan Pembelajaran Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) Berbantu Permainan Tradisional Dhakon Terhadap Kemampuan Berhitung Perkalian Siswa Kelas II. ” penelitian ini menghasilkan bahwa permainan dhakon terbukti lebih efektif dalam peningkatan ingatan angka dan kemampuan berhitung anak-anak sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih berkembang dan efektif. Penelitian tentang permainan tradisional juga dilakukan oleh Tatjana (2011) berjudul “Tradisional Perilaku Kekerasan Permainan dan Murid di Pendidikan Dasar. ” hasilnya menunjukan bahwa permainan tradisonal lebih berkualitas dan efisien untuk mencegah tindak kekerasan oleh anak. Jadi permainan tradisonal dapat dijadikan sarana dalam pendidikan karakter anak. Manfaat lainnya adalah meningkatkan aktivitas berkomunikasi karena dengan berkomunikasi guru dapat mengetahui tingkat kemampuan siswa, rasa berani karena siswa tidak takut dalam menyampaiakan hasil diskusi mereka kepada guru atau siswa lain,  rasa ingin tau dimana mereka akan mencari kebenaran dan hal baru dalam pembelajaran serta kekompakan  dan solidaritas bersama. Jadi penggunaan permainan tradisonal dalam proses pembelajaran anak di sekolah dasar sangat positif dan baik terutama dalam hal pendidikan karakter siswa dan efektivitas pemahaman siswa terhadap materi memiliki presentase yang besar.




Sumber :


http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
http://journal.uny.ac.id
http://library.fip.uny.ac.id
http://besmart.uny.ac.id/v2





Resensi Buku Non-Fiksi

Judul buku : Pengantar Pendidikan Inklusif

Pengarang : Dr. Dadang Garnida, M.Pd
Penerbit : PT Refika Aditama
Tahun terbit : 2015
Tebal halaman : 164 halaman





Sinopsis Buku

           Buku pengantar pendidikan inklusif ini memberikan informasi penting bagi para pengembang , pengawas sekolah, kepala sekolah dan guru di sekolah yang menyelenggarakan pendidikan inklusif. Beberapa privinsi serta kabupaten/kota saat ini telah menyatakan sebagai privinsi inklusif atau kabupaten/kota inklusif. Ini artinya provinsi serta kabupaten/kota tersebut telah membuka dan melepaskan diri dari sistem eksklusif di berbagai aspek kehidupan. Khususnya di bidang pendidikan, pendidikan inklusif merupakan sistem pendidikan yang mengakomodasikan seluruh peserta didiknya tanpa terkecuali untuk belajar bersama-sama dengan tanpa adanya diskriminasi.


           Buku sederhana ini diharapkan mampu membekali seluruh pelaku pendidikan khususnya pendididikan inklusif, agar implementasi pendidikan inklusif di sekolah-sekolah sesuai dengan cita-cita luhur bangsa ini. Cita-cita itu adalah untuk meningkatkan kimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia ini. Di dalam buku ini juga terdapat berbagai macam contoh desain kurikulum yang cocok untuk digunakan pada sekolah dengan pendidikan inklusif, mulai dari rancangan pembelajaran, program pembelajaran individual, prinsip pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, sistem penilaian dan pelaporan, dll. Buku ini juga memuat teori-teori para ahli terpercaya dan data konkret  yang akurat.


  Kelebihan Buku


Sampul depan/cover buku ini sangat menarik dengan warna yang terpadu dan lembut serta gambar yang menarik.

Isinya juga lengkap telah memuat sebagian besar bahkan hampir seluruh materi dan permasalahn untuk sekolah inklusif si Indonesia dan dunia.
Memiliki tabel-tabel yang memudahkan dalam proses membaca dan memahami apa maksud dari bacaan tersebut.
Setiap gambar dan teori memuat sumber dan pembahasan yang konkret dan sesuai dengan fakta atau dapat dipertanggung jawabkan.
Memuat prinsip-prinsip pembelajaran, angket informasi perkembangan anak dan daftar singkatan di dalam buku.

Kekurangan Buku


Kurangnya gambar pendukung di dalam buku.

Beberapa kata asing yang tidak diberikan keterangan arti yang membuat kita kesulitan dalam memahami maksud dari bacaan tersebut.
Beberapa kalimat yang terlalu panjang lebar atau terkesan bertele-tele padahal bisa diringkas lebih padat lagi.

Kesimpulan


  Buku ini sangat bermanfaat terutama untuk para tenaga pendidik di sekolah regular yang menerapkan sistem inklusif dimana terdapat penulisan sistem, materi, proses pembelajaran, sikap, teori, cara mengajar, dll, pada pendidikan inklusif. Terutama buku ini sangat bermanfaat unbtuk calon guru/mahasiswa yang akan masuk kedalam sekolah inklusi sebagai pengajar ataupun guru dalam pendidikan inklusif ini. Isi buku juga sudah lengkap dan terpercaya.



Sumber:


http://uny.ac.id

http://library.uny.ac.id
http://journal.uny.ac.id
http://library.fip.uny.ac.id
http://besmart.uny.ac.id/v2



Resensi Buku Non Fiksi

Judul buku : Pendidikan Luar Biasa Umum
Pengarang : Dr.Muljono Abdurrachman, DRS Sudjadi S
Penerbit : Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi
Tahun terbit : 1994
Tebal halaman : 274 halaman




 



Sinopsis Buku

           Buku ini bertujuan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan tenaga kependidikan, dengan cara melakukan penyesuaian kurikulum pendidikan tenaga kependidikan, khususnya guru sekolah menegah terkhusus di bidang ortopedagogik. Didalam ortopedagogik atau pendidikan luar biasa itu sendiri terdapat beberapa klasifikasi untuk anak - anak berkebutuhan khusus antara lain : tunagrahita, tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunalaras, berkesulitan belajar, gangguan komunikasi, berbakat, dan tunaganda. Dimana setiap enis anak luar biasa membutuhkan penganan yang khusus dan berbeda antara satu dengan yang lainnya.
         
           Dalam buku ini juga menjelaskan secara umum apa itu pendidikan, pendidikan nasional, hak dan kewajiban untuk memperoleh pendidikan, bahkan hingga undang - undang yang berkaitan dengan pendidikan itu sendiri di Indonesia. Buku ini juga menunjukan data - data secara detail mulai dari data yang bersifat kualitatif ataupun kuantitatif. Di dalam buku ini juga mencakup teori - teori dari tokoh – tokoh ortopedagog mulai dari nasional maupun internasional. Seluruh isi buku ini dapat dipertanggung jawabkan isinya karena mecantumkan setiap sumber - sumber penulisan dengan baik, jelas dan lengkap. Dituliskan pula perkembangan, hambatan, dan strategi pendidikan khususnya di bidang pendidikan luar biasa di Indonesia dari tahun ke tahun. Jika anda membaca buku ini maka anda akan langsung mengerti secara umum apa itu ortopedagogik atau pendidikan luar biasa. Di dalamnya juga terdapat ilmu tentang kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Kelebihan Buku


Judul buku menarik karena kita dapat mengetahui secara garis besar apa itu pendidikan luar biasa / ortopedagogik dengan buku yang tidak tebal tetapi lengkap.
Data – data yang dituliskan valid dan terpercaya karena disertai dngan sumber yang jelas.
Memuat teori dari tokoh - tokoh nasional maupun dunia tentang pendidikan khususnya ortopedagogik.
Terdapat daftar istilah atau glosarium disertai dengan keterangannya di halaman terakhir buku yang sangat membantu pembaca.

Kekurangan Buku

Cover bagian depan kurang menarik, karena warnanya kusam dan gambarnya terkesan membosankan.
Di dalam isi buku kurang disertai gambar – gambar pendukung secara lengkap sehingga cepat bosan jika membacanya terlalu lama atau pembaca kurang bisa mendalami isi buku.
Gambar di dalam buku terkadang tidak jelas karena kurangnya penjelasan lengkap isi gambar dan kualitas gambar yang kurang bagus.

Kesimpulan


           Buku ini buku yang bagus untuk dibaca bagi pemula karena mencakup sebagian besar dari arti ortopedagogik atau pendidikan luar biasa itu sendiri hanya saja didalamnya/isi terutama bagian gambar bisa lebih dilengkapi lagi dan diperjelas dalam mencetak. Untuk struktur penulisan telah lengkap ditambah adanya glosarium dan data akurat dari sumber terpercaya.




Sumber :

http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
http://journal.uny.ac.id
http://library.fip.uny.ac.id
http://besmart.uny.ac.id/v2