Kelompok 8 UKMP UNY 2018
Biografi
Tentang Ir Budi Noviantoro
Jakarta: Hampir 2 (dua) bulan posisi Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Logistik (KALOG) kosong setelah ditinggal pergi oleh pendahulunya yang meninggal karena sakit, yaitu Rustam Harahap (alm). Tepat di hari Selasa 04/03, Budi Noviantoro resmi dilantik menjadi Direktur Utama PT KALOG. Pria kelahiranBojonegoro, 17/11/1960 ini menikah dengan wanita idamannya, Widarti pada tanggal 21/09/1989 dan dikaruniai 2 (dua) orang putera : Dika Ageng Wihantoro dan Wahyu Jatmiko. Pria jebolan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya – jurusan Teknik Sipil, bergabung dengan PT KAI sejak tahun 1989. Beliau menduduki banyak jabatan, mulai dari Pengawas Seksi Jalan Rel dan Jembatan Daop 3, EVP PT KAI Divre 3 dan EVP Freight & Marketing di PT KAI Kantor Pusat.
Penemu Klip
Penambat Bantalan Kereta Api dengan Dua Gigi. Tidak mudah membangun jalan
kereta api sebab membangun jalur sistem kereta api kait-berkait dengan
bermacam-macam hal, khususnya alat keselamatan perjalanan. Seperti pembangunan
jalur ganda Cirebon- Cikampek Segmen 1, antara Cikampek dan Haurgeulis, Jawa
Barat. Badan jalan selesai, rel terpasang lurus karena sudah di-listring
(align), sebagian tetap saja tidak bisa digunakan karena persinyalan belum
selesai. Padahal, proyek penggandaan jalur Cirebon-Cikampek ini dibangun dengan
berbagai prestasi karena unik dan selesai sebelum jadwal, tetapi kemudian
terganjal karena tidak "masuk" Stasiun Cikampek akibat Proyek Bandung
Corridor yang waktu itu belum selesai.
Bandung Corridor
juga merupakan proyek jalur ganda parsial yang dibiayai Bank Dunia yang
sepotong-sepotong membentang antara Stasiun Cikampek sampai Padalarang.
Sementara Cirebon–Cikampek dibiayai bantuan Jepang dan keduanya merupakan
proyek Departemen Perhubungan yang hari ini diresmikan presiden. Segmen 1
Cikampek-Haurgeulis sepanjang 54,3 kilometer ini merupakan bagian akhir dari
jalur ganda Cirebon-Cikampek yang panjangnya sekitar 160 kilometer. Proyek ini
semula direncanakan akan selesai pada November 2005 sesuai dengan hitungan
konsultan. Namun setelah dihitung kembali, direncanakan dapat digunakan pada
bulan Maret 2004. Kenyataannya, 14 November lalu jalur ini sudah dapat
digunakan sehingga membantu memperlancar angkutan Lebaran. Dari jalur sepanjang
54,3 kilometer itu, 40 kilometer sudah komplet dengan persinyalan. Sisa sinyal
sudah dipasang, tetapi belum dilakukan commissioning oleh kontraktor. Dengan
alasan keselamatan, PT Kereta Api (PT KA) belum berani mengoperasikannya.
Keberhasilan ini
-ketika tak ada lagi kemacetan di jalur Cirebon/Cikampek karena tak lagi
berbentuk jalur tunggal- tidak bisa dilepaskan dari peran Kepala Proyek (KA)
Lintas Utara Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Departemen Perhubungan.
Keberhasilan membangun hanya satu segmen ini boleh kita anggap belum jadi
ukuran, tetapi yang dikerjakan Budi Noviantoro (43) -biasa dipanggil Novi-
memang selalu mengundang kekaguman. Ia berhasil mempercepat pembangunan jalur
ganda Cikampek-Haurgeulis karena kejelian memanfaatkan dan mengerti kebutuhan
orang lain.
Kontraktor ingin
proyek segera selesai sehingga cepat dibayar dan mencari pekerjaan lain.
Berdasarkan alasan sederhana itu, tutur Novi, ia membagi proyek menjadi enam
seksi yang dikerjakan serempak, tidak menyelesaikan sepotong-sepotong.
Hasilnya, target penyelesaian November 2005 maju menjadi Maret 2004 dan
akhirnya Februari mendatang semua sudah selesai karena tinggal persinyalan
saja. Ketika konsultan dan pemberi bantuan mengatakan harus mengganti jembatan
Kalibodri yang pilarnya bergeser dengan akibat harus menutup jalur selama
belasan jam, Novi bilang tidak. "Wong jembatan masih bagus, kan bisa lebih
hemat," kata ayah dua putra itu. Jembatan hanya dipindahkan ke pilar baru
dengan cara menggeser di lempengan baja antikarat yang dilapisi teflon agar licin
sehingga proses penggeseran pun hanya tiga jam. Orang Jepang yang tidak percaya
pada ide Novi mengirimkan sejumlah ahli untuk memantau pergeseran ini. Selain
itu, sekitar 150 mahasiswa jurusan teknik dari beberapa perguruan tinggi di
Jateng dan Yogyakarta juga ikut hadir, yang kalau proses penggantian itu
dikuliahkan, perlu 20 jam. Prinsip Novi, bahwa pekerjaan ini harus bisa
diselesaikan dengan biaya murah, tingkat keandalan tinggi, dan cepat selesai,
sudah memberikan hasil dengan diresmikannya jalur ini.
PT KA pun
sebenarnya harus berterima kasih kepada pemuda kelahiran Bojonegoro, Jawa
Timur, 17 November 1960, itu karena beberapa prestasinya. Misalnya ketika ia
harus meninggikan rel dan mengganti jembatan di jalur Tegal-Tanjung (Jateng)
karena permukaan tanah di sekitar jalur itu terasa semakin tinggi sehingga
jalur KA terancam banjir. Proyek itu malah membuat PT KA secara tanpa sengaja
mendapat jalur ganda di tempat itu tanpa tambah biaya.
Dengan cara
konvensional, untuk mengatasi masalah itu adalah dilakukan peninggian rel
sedikit-sedikit dan ini memakan waktu lama serta mengganggu perjalanan KA. Cara
lain adalah dibuat rel di sampingnya dan lalu lintas KA dialihkan ke rel
sementara itu ketika jalur lama dinaikkan. Setelah selesai, jalur sementara
dibongkar lagi, batu-batu balasnya dikeruk untuk digunakan di tempat lain.
Cara kerja Novi
tidak demikian. Ia tetap membangun jalur sementara tetapi dalam posisi tinggi,
naik 2,85 meter dibandingkan dengan posisi rel lama, sehingga malah pada
perlintasan dengan jalan raya ia dapat membangun sebuah underpass. "Dengan
underpass, tak akan ada tabrakan di perlintasan lagi," katanya. Rel lama
kemudian juga ditinggikan sama dengan rel baru.
Novi tidak cuma
piawai di lapangan. Ia juga berhasil membuat penambat rel (fastener) yang
namanya KA-Clip, yang kemudian dipatenkan atas nama PT KA yang diproduksi oleh
PT Pindad. Ia membuat penambat itu karena melihat, untuk rel-rel di Indonesia
dibutuhkan penambat khusus. Misalnya untuk rel ukuran R33, tak mungkin
menggunakan penambat merek Pandrol atau DE-Clip karena longgar. Apalagi Pandrol
dan DE-Clip harus diimpor atau dibuat di Tanah Air dengan lisensi dan membayar
royalti kepada pemilik paten. Dengan KA- Clip yang sudah diuji bertahun- tahun
di lapangan sebelum diakui dan mendapat paten, PT KA tidak harus mengimpor,
berarti menghemat devisa. Apalagi klip buatan Novi ibisa digunakan di rel
ukuran berapa saja, baik R33, R42, maupun R54.
Putra seorang
guru STM yang menamatkan pendidikan S1 teknik sipil di Institut Teknologi
Surabaya dan sarjana ekonomi di Universitas Islam Nusantara Bandung ini sangat
rendah hati. "Paten KA-Clip bukan atas nama saya karena dari awal saya
serahkan kepada PT KA," kata suami Windarti ini tanpa beban. Ia merasa
semua bukan pekerjaannya sendiri karena antara lain PT Pindad memfasilitasinya
untuk melakukan penelitian dan pengembangan, kemudian memproduksi.
Kalau saja Novi
yang memegang paten, dia akan mendapat royalti dari PT KA yang kini sudah
menggunakan ribuan KA-Clip di seluruh jaringannya. KA-Clip itu membuatnya
meraih Penghargaan Teknik Industri Kreasi Indonesia 2003 dari Presiden Megawati
Soekarnoputri belum lama ini. (Moch S Hendrowijono) --- Sumber: Harian Kompas,
4 Desember 2003.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar