"Efektivitas Aktivitas Pembelajaran Berkomunikasi Berbasis Permainan Tradisional Terhadap Dimensi Belajar Siswa"
Oleh : I Wayan Widiana, I Nyoman Jampel, dan I gusti Ayu Prayitha Prawini
Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat sederhana
tetapi berdampak sangat besar terutama untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengukur seberapa efektifkah permainan
tradisional dalam meningkatkan proses kognitif siswa melalui kegiatan yang
komunikatif. Penelitian ini berjenis penelitian semu. Dengan menggunakan 184
narasumber atau siswa kelas IV dari Gugus III Kecamatan Jembrana Bali. Sampel
penelitian ini dibagi menjadi 27 siswa terbagi atas kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen menggunakan tes essay berjumlah 17 butir. Anderson dan
Kratwohl di Negara Taksonomi Bloom (2010) yang direvisi bahwa ada dua dimensi pembelajaran
pencapaian yaitu , pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi proses
kognitif dibagi lagi menjadi enam kategori: (1) Mengingat : mengingat
pengetahuan atau ilmu dengan jangka waktu yang lama (2) paham membuat bahan ajar, termasuk apa yang
diucapkan, dan dilakukan oleh guru (3) Menerapkan atau menggunakan prosedur
atau tata cara dalam kondisi tertentu (4) Menganalisa: memecah materi ke dalam
komponen dan menentukan hubungan di antara komponen dan relasinya antara
komponen dan keseluruhannya struktur atau tujuan (5) Mengevaluasi: membuat
keputusan berdasarkan kriteria atau standar individu; (6) Menciptakan : membuat
sesuatu hal baru dari barang yang ada.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah diantaranya adalah pengajaran menggunakan metode ilmiah dalam pembelajaran masih kurang, komunikasi anatara guru dan murid yang tidak optimal, media yang digunakan guru masih terbatas, dan krativitas guru untuk membuat media pembelajaran masih sangat minim. Kebanyakan guru juga belum memahami tentang pentingnya permainan yang dapat memotivasi siswanya dengan cara bermain sambil belajar. Karena sesuai dengan apa yang dikatakan “Noviyanti dan Setyaningtyas (2017) menyatakan bahwa guru yang mengelola kelas dengan baik dapat mendidik siswa menjadi lebih efektif. Sebagai seorang guru, seseorang harus mampu untuk mengelola ruang kelas karena bertujuan agar pelajaran dapat sepenuhnya tercapai dan proses kognitif siswa menjadi lebih baik. Karena hal inilah diharapkan permainan tradisonal dapat menjadi pemecahan masalah untuk anak-anak sekolah saat ini khususnya di Indonesia. Sama seperti kata “Mulyani (10: 2016), permainan tradisional adalah permainan yang diwariskan dari nenek moyang kita dan bahwa kita wajib pertahankan karena mengandung kearifan lokal”. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan “Muliawan (2009: 35) perbedaan besar antara permainan kontemporer dan permainan tradisional terletak pada kenyataan bahwa di masa lalu, permainan tradisional tidak hanya melatih pikiran, perasaan dan emosi, tetapi mereka juga melatih menjaga keseimbangan antara gerakan tubuh dan kelincahan”.
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan prestasi belajar siswa rendah diantaranya adalah pengajaran menggunakan metode ilmiah dalam pembelajaran masih kurang, komunikasi anatara guru dan murid yang tidak optimal, media yang digunakan guru masih terbatas, dan krativitas guru untuk membuat media pembelajaran masih sangat minim. Kebanyakan guru juga belum memahami tentang pentingnya permainan yang dapat memotivasi siswanya dengan cara bermain sambil belajar. Karena sesuai dengan apa yang dikatakan “Noviyanti dan Setyaningtyas (2017) menyatakan bahwa guru yang mengelola kelas dengan baik dapat mendidik siswa menjadi lebih efektif. Sebagai seorang guru, seseorang harus mampu untuk mengelola ruang kelas karena bertujuan agar pelajaran dapat sepenuhnya tercapai dan proses kognitif siswa menjadi lebih baik. Karena hal inilah diharapkan permainan tradisonal dapat menjadi pemecahan masalah untuk anak-anak sekolah saat ini khususnya di Indonesia. Sama seperti kata “Mulyani (10: 2016), permainan tradisional adalah permainan yang diwariskan dari nenek moyang kita dan bahwa kita wajib pertahankan karena mengandung kearifan lokal”. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan “Muliawan (2009: 35) perbedaan besar antara permainan kontemporer dan permainan tradisional terletak pada kenyataan bahwa di masa lalu, permainan tradisional tidak hanya melatih pikiran, perasaan dan emosi, tetapi mereka juga melatih menjaga keseimbangan antara gerakan tubuh dan kelincahan”.
Hal inilah yang menjadikan permainan tradisonal memiliki
nilai plus yaitu ”melatih motorik (gerak fisik), mempengaruhi (perasaan),
kognitif (kecerdasan), spiritual (karakter), dan keseimbangan (kesempurnaan
hidup) (Muliawan, 2009: 35)”. Berdasarkan kriteria skala lima dan menurut analisis
data bahwasanya skor rata-rata dalam
proses kognitif di kelompok eksperimen adalah 60.67 (sangat tinggi). Terbukti hipotesis
penelitian yang diujikan tersebut terdapat perbedaan yang sangat signifikan dan
positif kepada keenam anak SD di Indonesia. Pada kelompok III , sekolah di Kabupaten
jembrana Bali tahun 2016/2017diadakan uji hipotesis yang memiliki hasil akhir
yaitu kenaikan presentase hasil positif siswa hingga 5%. Penelitian ini dapat
menujukan bahwa suatu inovasi belajar ataupun mengajar dapat meningkatkan
aktivitas siswa, motivasi, dan proses kognitif. Sebuah aktivitas pembelajaran
berbasis permainan tradisional sangat sesuai dengan karakter siswa sekolah
dasar secara umum yaitu sangat suka bermain dan sangat suka berbicara. Hal ini
sesuai dengan penemuan atau penelitian
yang dilakukan oleh Noviyanti dan Setyaningtyas (9: 2017) Bahwa lingkungan yang
kurang kondusif dapat menghambat perkembangan siswa terutama dalam hal
kedisiplinan (masalah behavior).
Mengganggu teman yang lain dalam pembelajaran tidak hanya
berdampak secara fisik tetapi juga psikologis atau psikis. Dalam hal inilah
permainan tradisional efektif untuk diterapkan di pengajaran karena dapat
membuat kondisi kelas lebih hidup dan terkesan ramah. Karena Lingkungan yang
kondusif akan mampu meningkatkan motivasi belajar dan mendidik karakter siswa. Permainan
tradisional adalah kegiatan melestarikan budaya yang berfungsi untuk media
mendidik rasa solidaritas, demokrasi, empati, simpati, meghargai orang lain,
menghormati orang lain, toleransi, konsensus, kekompakan, dan saling tolong
menolong. Juga dapat mengasah jiwa kepahlawanan seorang anak seperti pantang
menyerah, mandiri, bertanggung jawab, kontrol diri, mementingkan kepentingan
bersama diatas kepentingan pribadi, dan membela hak orang lain. Terdapat juga
aktivitas fisik seperti membuat badan sehat karena menggunakan otot,
meningkatkan fungsi organ dalam tubuh, dan memperlancar metabolisme. Maka anak-anak
akan dapat mengembangkan kepribadiannya kearah yang positif seperti jujur,
sportif, bertanggung jawab, kontrol diri, toleransi, dan kasih sayang terhadap
sesama. Permainan tradisonal juga dapat mengasah kedisiplinan seorang anak yang
meliputi taat aturan, norma, dan nilai-nilai. Hal inilah yang mencerminkan
keberagaman berbagai masyarakat dan budaya terutama permainan tradisional di
Indonesia di dalam Bhinneka Tunggal Ika.
Berhubungan dengan ini, maka hal yang sama juga dinyatakan
oleh Haerani bahwa permainan tradisional yang juga merupakan budaya nasional
Indonesia terbukti mampu mengembangkan karakter positif pada anak-anak. Aktivitas
belajar dengan permainan tradisional juga mampu untuk meningkatkan aktivitas
berkomunikasi siswa disamping untuk melestarikan budaya Indonesia dari kemajuan
zaman dimana anak-anak semakin melupakan permainan tradisonalnya dan memilih
bermain gawai atau gadged. Siswa yang tadinya pasif dan pemalu dalam
menyampaikan pendapatnya setelah diberikan permainan tradisional maka dia
menjadi aktif dalam berkomunikasi dan antusias di kelas. Pembelajaran dengan
permainan tradisional juga memiliki
beberapa manfaat lain, contohnya dapat mengasah ingatan anak-anak, mengatur
strategi, memiliki tujuan atau target yang harus dicapai. Contoh permainan
tradisional yang dilakukan adalah permainan kena jadi yang terbukti menjadikan
aktivitas berkomunikasi menjadi efektif, optimal, suasana kelas lebih
menyenangkan,dan mengasah fokus para peserta didik. Dalam permainan ular naga
juga dapat membuat siswanya lebih aktif untuk mengembangkan pengetahuan mereka,
keberanian, dan melatih cara berpendapat kepada orang lain. Ini sesuai dengan
opini Koswara (Koswara, 2014) mengajar akan lebih bermakna dan tahan lama jika
para siswa diberi kesempatan untuk aktif mengembangkan pengetahuan mereka
sendiri, untuk mengembangkan pengetahuan sendiri agar dapat diubah menjadi
perilaku yang benar-benar baru dan positif hasil dari pengalaman dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Namun dalam setiap permainan tradisional
harus kita dasari pancasila karena hal ini juga dapat mengasah nasionalisme dan
patriotisme anak sejak kecil.
Peneliti menggunakan dua responden anak dari Bali untuk
memainkan permainan ngangengkang batu dan nyen durien agar mereka juga mengenal
berbagai macam permainan tradisional di daerahnya. terbukti permainan ini
menjadi kegiatan pembelajaran berkomunikasi yang menyenangkan, aktif dan
antusias. Penelitian ini merupakan tindak lanjut dari Sri Wati (2013) berjudul
“Model Pengaruh Pembelajaran TPS Berbantu Media Permainan Tradisional Bali
terhadap Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas IV SD Gugus IV Sawan. ” Hasil
penelitian ini adalah terjadinya perbedaan pemahaman dalam memahami sains antara
anak menggunakan metode pengajaran permainan tradisional dengan anak yang
menggunakan metode konvensional. Penelitian ini juga mendapat dukungan dari Untari
(2013) berjudul “Keefektifan pendekatan Pembelajaran Pendidikan Matematika
Realistik Indonesia (PMRI) Berbantu Permainan Tradisional Dhakon Terhadap
Kemampuan Berhitung Perkalian Siswa Kelas II. ” penelitian ini
menghasilkan bahwa permainan dhakon terbukti lebih efektif dalam peningkatan
ingatan angka dan kemampuan berhitung anak-anak sehingga pembelajaran
matematika menjadi lebih berkembang dan efektif. Penelitian tentang permainan
tradisional juga dilakukan oleh Tatjana (2011) berjudul “Tradisional Perilaku
Kekerasan Permainan dan Murid di Pendidikan Dasar. ” hasilnya menunjukan
bahwa permainan tradisonal lebih berkualitas dan efisien untuk mencegah tindak
kekerasan oleh anak. Jadi permainan tradisonal dapat dijadikan sarana dalam
pendidikan karakter anak. Manfaat lainnya adalah meningkatkan aktivitas berkomunikasi
karena dengan berkomunikasi guru dapat mengetahui tingkat kemampuan siswa, rasa
berani karena siswa tidak takut dalam menyampaiakan hasil diskusi mereka kepada
guru atau siswa lain, rasa ingin tau
dimana mereka akan mencari kebenaran dan hal baru dalam pembelajaran serta kekompakan
dan solidaritas bersama. Jadi penggunaan
permainan tradisonal dalam proses pembelajaran anak di sekolah dasar sangat
positif dan baik terutama dalam hal pendidikan karakter siswa dan efektivitas
pemahaman siswa terhadap materi memiliki presentase yang besar.
Sumber :
http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
http://journal.uny.ac.id
http://library.fip.uny.ac.id
http://besmart.uny.ac.id/v2





